Takalar,Takalar infota-TAKALAR – Panitia Smart Challenge Pondok Modern Nurul Asafa memberikan penjelasan terkait polemik pembatalan gelar Juara Umum I yang sebelumnya diumumkan kepada salah satu peserta dari UPT SD Negeri 45 Biringbalang pada ajang Smart Challenge yang berlangsung di Aula Ripuji Pondok Modern Nurul Asafa, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Kamis (21/5/2026).

Polemik tersebut muncul setelah adanya keberatan dari salah satu guru pendamping sekolah peserta lain yang mempertanyakan status peserta yang diketahui masih duduk di kelas 5 SD. Menindaklanjuti laporan tersebut, panitia kemudian melakukan verifikasi terhadap administrasi peserta.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, panitia menemukan bahwa peserta yang sebelumnya diumumkan sebagai peraih Juara Umum I masih berstatus siswa kelas 5 SD. Sementara itu, dalam petunjuk teknis (juknis) lomba yang telah ditetapkan sejak awal, peserta yang berhak mengikuti kompetisi adalah siswa kelas 6 SD atau sederajat.

Panitia menjelaskan bahwa ketentuan tersebut telah dicantumkan secara jelas dalam dokumen juknis dan disosialisasikan kepada seluruh sekolah peserta sebelum pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, syarat peserta kelas 6 bukan merupakan aturan baru yang muncul setelah perlombaan berlangsung, melainkan ketentuan yang telah berlaku sejak tahap persiapan.

Atas dasar itu, panitia memutuskan membatalkan status Juara Umum I yang sebelumnya diberikan kepada peserta tersebut karena tidak memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan.

Meski demikian, panitia menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak berkaitan dengan kemampuan akademik peserta. Panitia tetap memberikan apresiasi atas prestasi dan kemampuan yang ditunjukkan selama kompetisi berlangsung.

Menurut panitia, keputusan itu diambil sebagai bentuk komitmen untuk menjaga konsistensi pelaksanaan aturan serta menjunjung prinsip keadilan bagi seluruh peserta yang mengikuti lomba sesuai ketentuan yang berlaku.

Ke depan, panitia berharap proses verifikasi administrasi peserta dapat dilakukan lebih ketat sejak tahap pendaftaran guna menghindari terulangnya kejadian serupa pada pelaksanaan kompetisi berikutnya.